Instagram dan Into the Wild
Beberapa
waktu yang lalu saya menghapus akun instagram saya dan alhamdulillah setidaknya sekarang kehidupan saya lebih tenang.
Mungkin terkesan konyol atau kekanak-kanakan jika seorang yang sudah dewasa
main tutup akun seperti anak sekolah atau mahasiswa yang putus dengan
kekasihnya dan memilih untuk menghilang. Ayolah, tentu saja bukan itu alasannya.
Sebelum masuk ke bahasan inti, mari saya ceritakan
pemikiran saya beberapa waktu belakangan ini. Beberapa waktu yang lalu saya
menonton film Into The Wild. Sebuah biopic tentang kehidupan Christoper Mc
Candles yang muak dengan masyarakat yang semakin materialistis dan memilih
untuk meninggalkan semua bentuk kemapanannya dengan hidup menyepi di belantara
Alaska di usia emasnya, di mana remaja seusianya sibuk untuk membangun karir
demi kemapanan hidup. Chris mengembara dan menyepi untuk mencari arti
kebahagiaan dalam perjalanan dan perenungannya yang sunyi.
Tentunya saya tidak sampai ingin
bertindak bodoh seperti Chris. Toh, meskipun saya pergi jauh meninggalkan
peradaban, itu tidak akan mengubah tatanan dan cara berpikir masyarakat.
Meskipun demikian, saya sepemikiran dengan Chris tentang masyarakat yang
semakin materialistis. Bukannya saya bersikap hipokrit, saya juga butuh uang
tapi saya benci mendewakan uang.
Mau tidak mau, film ini sedikit
banyak memengaruhi pemikiran saya. Mungkin pemikiran seperti ini sudah lama
berkutat di otak saya, namun film ini seakan mempertegas bahwa memang ada yang
salah dalam gaya hidup masyarakat saat ini seiring dengan perkembangan zaman
dan teknologi. Dan hal ini juga tidak lepas dari perilaku masyarakat di dunia
maya.
Oke, kembali ke topik awal,
instagram. Jujur saja, awalnya saya membuat akun instagram hanya sebagai sarana
ekspresi diri (dalam hal ini maksud saya adalah berkarya). Posting-an yang saya buat hanyalah karya-karya fotografi amatir,
sedikit ulasan abal tentang buku yang baru selesai saya baca, atau sekadar
foto-foto pribadi saya di sawah atau di pantai dekat rumah. Saya sama sekali
tidak tergugah untuk pamer kemewahan atau menunjukkan status sosial saya di
masyarakat karena memang tidak ada yang bisa saya pamerkan dan rasanya saya
tidak punya status sosial yang cukup keren. Mobil, baju-baju mahal, liburan ke
luar negeri, atau makanan-makanan mewah, saya tidak punya semua itu.
Bukannya saya iri dengan kebahagiaan
orang lain atau sejenisnya. Akan tetapi jujur saja saya muak melihat “pertunjukan”
status sosial mereka lewat foto-foto mereka dengan mobilnya, dengan pasangannya,
liburan-liburan ke luar negeri, foto di jendela pesawat, villa mewah, atau
hal-hal lain yang berbau kebahagiaan (untuk sekadar lebih halus daripada
kemewahan).
Mau tidak mau, unggahan-unggahan semacam itu pasti nongol
saat saya scroll layar ponsel. Dan
bukannya ikut bahagia atas mereka, saya malah semakin minder dengan diri saya
sendiri dan efeknya adalah penyakit mental.
Awalnya saya merasa bahwa diri saya hanya terlalu
sensitif, namun setelah membaca beberapa artikel di internet, ternyata bukan
hanya saya yang merasakannya. Cobalah Anda mengetik keyword “Instagram makes me” lalu hentikan di situ
dan biarkan Google menyarankan
penelusuran Anda. Maka, Anda akan melihat tampilan seperti ini.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh United Kingdom’s
Royal Society for Public Health menunjukkan bahwa Instagram menduduki peringkat
pertama untuk media sosial dengan dampak buruk bagi penggunannya. Survei yang
dilakukan terhadap 1500 remaja dan anak muda di Inggris menunjukkan bahwa Instagram adalah
media sosial terburuk terhadap kesehatan mental terkait dengan dampak terhadap
kegelisahan, depresi, dan sindrom FoMo (Fear of Missing Out/takut ketinggalan).
Instagram menempati posisi terburuk, disusul dengan Snapchat, dan Facebook di
peringkat di bawahnya.
Dalam situs daring majalah Time,
dituliskan bahwa foto-foto di instagram dapat menyebabkan perasaan gelisah dan
minder terkait dengan ekspektasi yang tidak realistis. Saya sangat setuju
dengan hal ini. Bagaimanapun, hal ini juga saya rasakan. Bukannya saya tidak
suka melihat orang lain bahagia dengan semua kebahagiaannya yang diunggah ke
akun instagramnya, namun disadari atau tidak, diinginkan atau tidak, pasti saya
akan membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan saya yang menurut saya
begitu-begitu saja. Padahal, jika tidak ada stimulus apapun, saya sudah merasa
cukup bahagia dengan hidup saya.
Media sosial pada
umumnya, dan Instagram pada khususnya, memang menyediakan sarana ekspresi diri.
Memang, adalah hak setiap orang untuk berekspresi dan tidak ada yang membatasi
sejauh apa seseorang boleh berekspresi, dan batasan ini pun sangat relatif dan
fleksibel, bahkan nyaris tidak ada, bergantung pada kelas-kelas masyarakat dan
status sosialnya. Bukan masalah mental baja atau tempe, semua bergantung pada
cara pandang masing-masing. Anggap saja seperti menonton film di bioskop. Jika
filmnya tidak cukup menghibur, tinggal keluar saja.



Comments
Post a Comment