Sunday Walking di Lereng Welirang



“Allahuakbar, Allaaahuakbar….”, terdengar suara adzan di pagi itu, menandakan waktu subuh telah tiba. Setengah sadar saya terbangun, menoleh ke kanan, ke kiri, mencari handphone untuk melihat jam berapa saat itu. “Whatt??? Apes, aku gak sahur!!!, #$$^**(^*&)”, spontan saya terkejut, sampai-sampai, kurang ingat kata apa saja yang keluar saat itu. Ah, ya sudahlah, tidak sahur juga tidak masalah, meski akan membuat lapar dan haus datang sebelum waktunya. Sebenarnya bukan itu yang saya khawatirkan, tapi hari itu saya bersama seorang teman saya berencana untuk sunday walking ala J.B. Comber ke sebuah hutan di lereng gunung Welirang.
Terdengar melodi keroncongan di dalam perut saya, tenggorokan serasa kering, beginilah kalau tidak sahur. Apa boleh buat, mau tidak mau, acara sunday walking harus tetap berjalan. Tak butuh hitungan jam untuk kami bersiap-siap, cukup butuh beberapa menit saja, lalu dua orang yang jarang mandi ini pun berangkat menuju lokasi. Sebenarnya acara ini hanya pelampiasan rasa bosan karena sudah beberapa hari hanya mengurung diri di kontrakan, dengan hiburan Facebook dan Twitter.
Menjelajahi rute yang terlalu mainstream rasanya membosankan, dan yang ditemukan paling ya itu-itu saja. Seperti Sunday walking-nya Pak J.B. Comber yang sering diceritakan dalam bukunya, Orchids of Java, target kami kali ini anggrek dan beberapa harta karun unik lainnya. Beres sudah, motor sudah diparkir, cek perlengkapan, dan kami pun masuk ke dalam hutan. Rute kali ini tidak terlalu mainstream, kami menjajal rute baru, ke sisi timur lereng.

Puncak gunung welirang, selalu bersemangat menyemburkan asap belerang :D



Baru masuk beberapa meter ke dalam hutan, terlihat sebuah sungai. Terpaksa kami harus menyebrang sungai. Basah tak menjadi masalah bagi kami, karena memang belum mandi dan tak takut kotor :D Beberapa langkah kami berhenti, mencoba mencari rute yang mudah dan tak terlalu berbahaya dilewati, meski kami pada akhirya menggunakan batang pohon tumbang yang licin sebagai jembatan menyebrangi sungai yang tak terlalu dalam. Sungguh terlalu :D
Setelah masuk cukup ke dalam hutan, kami tidak terlalu berani untuk masuk lebih dalam lagi, karena mungkin kami akan kesasar dan kehilangan arah. Akhirnya, kami pun memutuskan  untuk kembali sambil melirik sana-sini, siapa tahu anggrek. Semak demi semak kami buka, ranting demi ranting kami lihat, hingga kami terlihat seperti paranormal mencari sesuatu yang ghaib.
Memperhatikan daerah rumpun bambu,
mencari beberapa anggrek tanah.

Tak sia-sia perjuangan kami, semua pun terbayar dengan beberapa spesies anggrek unik yang kami temukan. Mungkin saya harus terkejut saat pertamakali melihat wujud asli Goodyera reticulata. Beberapa individu muda tampak berserakan di bawah rumpun bambu, menambah kesan natural saja. Baru kali ini saya melihat anggrek ini, hingga berkali-kali memotretnya.
Beberapa cabang pohon berjatuhan di tanah, mungkin patah tersapu angin yang cukup kencang. Kami pun tak melewatkannya, karena pasti ada sesuatu yang menarik di situ. Setelah dicermati, ada beberapa individu Ceratostylis sedang berbunga. Beberapa bidikan kamera kami arahkan, beberapa gambar kami ambil. Kami tidak tahu nama spesiesnya, hingga kami cek spesimen utuhnya dan kami temukan namanya, Ceratosttylis braccata yang konon kata Pak J.B. Comber merupakan spesies endemik Jawa.
Satu lagi spesies yang cukup mengesankan juga mengecewakan saat itu. Apa itu? Sesosok tumbuhan kecil, daunnya berbentuk jantung, nyaris tak nampak seperti anggrek, juga tak terlihat seperti Nervilia. Ialah Corybas, kami kurang tahu Corybas apa itu, mungkin C.umbrosus yang pernah tercatat oleh beberapa orang teman di lokasi tersebut. Sayang sekali, mungkin waktu kami kurang tepat, sehingga tidak dapat melihatnya berbunga.
 
Ceratostylis braccata, Rchb, bunganya hanya berukuran beberapa milimeter saja.
Corybas sp. Entah Corybas apa ini, sayang sekali tidak berbunga.


Setelah cukup puas dengan beberapa temuan dan rasa bosan kami yang cukup terobati, kami pun kembali mencari jalan pulang. Tak lupa kami melihat puncak gunung welirang yang selalu bersemangat menyemburkan asap belerangnya. Mungkin terlalu ruwet, sehingga jalan masuk dan jalan keluar yang kami lewati berbeda. Sedikit atraksi kami lakukan saat menyebrangi sungai dengan berjalan, bahkan merangkak di atas pohon raksasa yang tumbang, haha :D

Meniti langkah di atas pohon tumbang yang licin.
 Demikian acara Sunday walking saat itu. Cukup menghibur, meski menguras tenaga, apalagi bagi yang sedang menjalankan ibadah puasa dan tidak makan sahur seperti saya, haha :D Benar-benar amazing sekali, kami menemukan banyak hal, juga kesenangan saat itu, karena belajar, tak harus dalam kelas. Salam :D* 



Comments

Popular Posts