Skripsi atau Uji Nyali?



Judul skripsi memang selalu unik, dan terkadang juga aneh-aneh, seperti yang sedang dikerjakan oleh salah seorang teman saya. Oke lah, penelitian tentang katak terdengar sederhana, tapi apa artinya? Ya, artinya adalah ekspedisi malam untuk menemukan katak yang dicari. Entah apa yang dipikirkan oleh teman saya yang satu ini. Ya, mungkin inilah sedikit cerita dari “uji nyali” kami beberapa minggu yang lalu.
Entah tanggal berapa dan bulan apa kami memulai untuk yang pertama kalinya, yang jelas 1 atau 2 bulan yang lalu. Mungkin yang paling saya ingat ialah malam purnama, saat kami harus berangkat ke Cangar, Tahura R. Soerjo untuk mengumpulkan serpihan-serpihan data untuk skripsi teman saya. Setelah siap dengan jaket, headlamp, senter, dan sepatu boot karet, kami berangkat menuju lokasi. Okay, malam pertama di Cangar, dan bagaimana jadinya?
Bulan purnama, menerangi malam pertama
pengumpulan data kami di Cangar.
 “Krik, krik, krik”, suara jangkrik terdengar dari seluruh penjuru hutan, suara katak seolah-olah bernyanyi menyambut gelapnya malam. Ya, kira-kira seperti itulah suasana malam itu, malam pertama ekspedisi kami. “Sepi rek”, itu yang saya ucapkan saat pertama menginjakkan kaki di lokasi malam itu. Setelah bersiap-seiap dan memarkir kendaraan, kami berkumpul terlebih dahulu untuk berdoa, sebelum kemudian kami masuk ke hutan untuk menyusuri hutan di pinggiran sungai.

Mencari katak memang terdengar mudah, tetapi tidak semudah melakukannya. Suaranya terdengar dari mana-mana, tetapi susah untuk menemukannya. Itulah yang kami rasakan saat itu. Butuh berjam-jam untk mencarinya, tentunya dengan sekarung kesabaran. Kami menyusuri semak-semak, melihat di balik dedaunan, berharap ada sesosok amfibia yang menempel di situ. Hampir 3 jam pencarian, dan hasilnya nihil, hingga kami mendapatkan hasil di malam kedua.


Narsis dulu meski di tengah hutan malam hari.
Malam demi malam berlalu, tak terasa jatah jelajah untuk wilayah Cangar sudah selesai. Lalu kemana berikutnya? Ya, air terjun watu ondo merupakan tujuan kami berikutnya. Setelah melakukan ekspedisi malam di watu ondo, ternyata hasilnya kurang memuaskan. So, kemana lagi? “Pak, kira-kira di mana yang banyak amfibinya?”, tanya teman saya kepada salah seorang petugas jagawana di Tahura R. Soerjo. Petugas tersebut kemudian menjawab,”Ya di Lemahbang Mas, di situ banyak hewan-hewannya, termasuk katak juga”. “What??? Lemabang??? Yang benar saja, itu kan tempat yang serem”, pikir saya waktu itu. Mau bilang takut sungkan, mau bilang berani juga saya tidak terlalu berani, ya sudah diam saja, hingga keadaan memaksa kami untuk berangkat ke Lemahbang di malam berikutnya.

Inilah salah satu katak yang terlihat malam itu. Mencari katak di hutan tidak semudah kedengarannya.
Suaranya datang dari segala arah, tetapi mencarinya butuh usaha keras.
Beginilah ekspresi kegembiraan dalam kegelapan,
saat kami menemukan spesies yang kami cari-cari.
 Akhirnya malam itu pun tiba, malam saat kami harus ke Lemahbang untuk mengumpulkan beberapa data penelitian. Gila, memang benar kalau tempat ini dibilang serem. Jauh dari pemukiman penduduk, dikelilingi hutan belantara, hanya jalan aspal yang tak cukup lebar di tengah, tanpa penerangan jalan apapun, rasanya ikut menambah sense seram saja. Ditambah lagi isu petugas yang melihat pocong mengejar mobil saat patrol malam beberapa bulan lalu, benar-benar semakin mirip dengan uji nyali saja. Tanpa pikir panjang, kami menyiapkan segala peralatan, berdoa, dan masuk ke dalam hutan. Ditemani dua orang jagawana yang sudah terbiasa masuk hutan, kami merasa sedikit aman dan tenang. Udara dingin dan gelap malam benar-benar menguji fisik dan mental kami saat itu. Dari kegelapan malam, di berbagai penjuru hutan terdengar suara katak yang kami cari. Selangkah demi selangkah kami menyusuri semak, pepohonan, sesekali menyibak dedaunan, berharap ada seekor katak yang menempel di situ, hingga akhirnya kami menemukan beberapa ekor di malam itu. Tak jarang sesekali bulu kuduk kami merinding, entah karena udara dingin atau yang “lainnya”.
 Lemahbang, mungkin merupakan tempat yang sangat cocok bagi kami. Kurang lebih 5x kami mengunjungi masing-masing tempat, yaitu Cangar dan Lemahbang. Jadi totalnya kami melakukan pengambilan data lebih dari 10x  dalam sebulan. Berbagai pengalaman kami dapatkan, mulai dari pengalaman menarik, hingga mengerikan dari rangkaian kegiatan pengumpulan data yang lebih mirip uji nyali tersebut. Pernah pada suatu malam, sepulang dari Lemahbang, mobil yang kami kendarai mogok setelah Pak Sopir melihat sesosok bungkusan putih yang biasa disebut pocong melompat-lompat menyebrang jalan, dan terpaksa kami harus mendorong mobil tersebut hingga mesinnya kembali menyala. Tak berhenti sampai di situ, saat perjalanan pulang, pocong itu masih sempat menampakkan dirinya pada salah seorang teman kami, saat melintasi wilayah persawahan warga di Bumiaji. Ada lagi suara gamelan di tengah hutan Lemahbang. Coba banyangkan, siapa yang bermain kalau bukan “penduduk setempat” yang tidak terlihat wujudnya? . Pokoknya banyak pengalaman yang berhubungan dengan hal-hal seperti itu kami rasakan selama pengambilan data. Benar-benar uji nyali.
 
Nah, kalau sudah mogok begini, mau tidak mau kami harus mendorong mobil.
Kata Pak sopirnya sih, mesinnya mati setelah melihat pocong melintas di jalan, hiiii.

Mungkin terlalu ekstream memang aksi kami saat itu, tapi sesuatu yang biasa-biasa saja, sudah terlalu mainstream. Ini pengalaman yang berharga bagi kami, karena bisa merasakan sensasi penelitian di tengah hutan saat malam hari, haha. Memang, judul penelitian untuk skripsi itu macam-macam, hingga muncul ide ekstream seperti yang dipikirkan teman saya ini. Sekian rangkuman cerita uji nyali kami di Tahura R. Soerjo, dan salam :D*





Comments

Popular Posts